
Keterangan Gambar : Ketua PETAKA Banyuwangi
BANYUWANGI – Ketua PETAKA (Pergerakan Wartawan Reinkarnasi), Nanang Slamet menyampaikan sikap tegas dan kecaman keras atas dugaan pembedaan perlakuan terhadap wartawan di Banyuwangi dalam sebuah agenda resmi yang melibatkan jajaran Polresta Banyuwangi.
Dalam pernyataan resminya, Ketua PETAKA menegaskan bahwa dalam waktu dekat pihaknya akan menggerakkan dan mengumpulkan wartawan-wartawan Banyuwangi untuk mengambil sikap bersama atas peristiwa yang dinilai mencederai solidaritas dan independensi pers tersebut.
“Kami mengecam keras adanya indikasi pembedaan antar wartawan. Jika benar terjadi, ini bukan hanya persoalan teknis, tetapi persoalan prinsip demokrasi dan penghormatan terhadap profesi jurnalistik,” tegasnya.
Ketua PETAKA menyayangkan munculnya kesan tebang pilih terhadap insan pers di Banyuwangi. Ia menilai, perbedaan karakter wartawan dalam menjalankan tugas adalah hal yang wajar dalam dinamika demokrasi.
Menurutnya, secara umum memang terdapat beragam tipologi wartawan:
Ada yang cenderung menjaga hubungan harmonis dan mengedepankan pendekatan persuasif. Ada pula wartawan yang kritis, independen, dan tidak mudah terpengaruh iming-iming fasilitas atau janji kesejahteraan. Namun, perbedaan karakter tersebut tidak boleh dijadikan dasar untuk mendiskreditkan atau mengucilkan pihak tertentu.
“Wartawan yang kritis dan tetap berpegang pada etika jurnalistik justru sering dianggap tidak profesional oleh oknum pejabat tertentu. Ini pola pikir yang keliru dan berbahaya bagi demokrasi,”
Ketua PETAKA menegaskan bahwa sikap kritis bukanlah bentuk permusuhan terhadap institusi. Kritik adalah bagian dari fungsi kontrol sosial sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Menurutnya, ketika wartawan yang kritis justru diperlakukan berbeda, maka muncul persepsi bahwa hanya media tertentu yang dianggap “aman” atau “menguntungkan”.
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan: Polarisasi di kalangan wartawan.
Ketidakpercayaan publik terhadap transparansi institusi.
PETAKA Siap Konsolidasi dan Ambil Sikap Kolektif
Sebagai bentuk respons atas situasi ini, Ketua PETAKA menyatakan akan segera menggelar konsolidasi bersama wartawan lintas media di Banyuwangi.
Langkah ini dimaksudkan untuk:
1. Menyatukan persepsi dan sikap insan pers.
2. Menjaga marwah dan solidaritas profesi wartawan.
3. Mendorong terciptanya hubungan yang profesional, setara, dan transparan antara media dan lembaga publik.
“Kami tidak ingin ada sekat-sekat. Tidak boleh ada klasifikasi wartawan ‘yang disenangi’ dan ‘yang tidak disenangi’. Semua memiliki hak yang sama dalam menjalankan tugas jurnalistik,” tegasnya.
PETAKA mengingatkan bahwa wartawan yang berpegang teguh pada kode etik jurnalistik dan tidak mudah terpengaruh iming-iming tertentu justru merupakan aset demokrasi. Menganggap wartawan kritis sebagai tidak profesional adalah bentuk delegitimasi terhadap fungsi pers itu sendiri.
Ketua PETAKA berharap seluruh pejabat dan institusi publik di Banyuwangi mampu bersikap dewasa dan terbuka terhadap kritik.
“Kami ingin Banyuwangi maju dengan transparansi, bukan dengan pembelahan. Pers yang independen adalah mitra pembangunan, bukan musuh kekuasaan,” pungkasnya.
(Red)
