1.jpg)
Banyuwangi - Keberhasilan sektor pertanian Banyuwangi, yang
merupakan salah satu lumbung pangan Jawa Timur, sangat bergantung pada jaringan
irigasi yang kompleks dan masif. Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pengairan
Banyuwangi saat ini bertugas mengelola dan merawat total 390 bendung dari 397
bendung yang ada, sebuah aset infrastruktur air yang menuntut pemahaman teknis
mendalam dan perawatan berkala non-stop.
“Ada perbedaan mendasar yang harus dipahami. Bendung adalah
bangunan yang didirikan melintang di sungai, fungsinya adalah menaikkan level
permukaan air secara terkontrol agar air dapat dialirkan secara langsung ke
saluran irigasi lahan pertanian melalui pintu air,” jelas Riza.
Sebaliknya, lanjut Riza, bendungan memiliki fungsi yang jauh
lebih kompleks dan skala yang lebih besar. “Bendungan (dam) adalah
infrastruktur yang menahan dan menampung air dalam volume yang sangat besar,
seperti waduk. Fungsinya bukan hanya irigasi, tetapi juga suplai air baku untuk
air minum, potensi industri, hingga pariwisata. Bendungan digunakan untuk
menyimpan dan mendistribusikan air berdasarkan kebutuhan jangka panjang,”
paparnya.
Mengingat wilayah Banyuwangi yang luas, DPU Pengairan
memiliki tantangan besar dalam merawat ratusan bendung tersebut agar pasokan
air ke sawah tetap stabil dan merata sepanjang tahun. Seluruh 390 bendung yang
dikelola DPU Pengairan harus melalui pengecekan dan pemeliharaan rutin,
memastikan tidak ada kerusakan minor yang dapat mengganggu distribusi air,
terutama saat musim tanam.
Riza menegaskan bahwa pemeliharaan infrastruktur ini bukan
sekadar tugas teknis, melainkan wujud komitmen Pemkab Banyuwangi terhadap
ketahanan pangan daerah. “Ketersediaan air yang cukup adalah kunci mutlak bagi
keberhasilan sektor pertanian. Melalui pengelolaan yang terencana dan berbasis
teknis, kami memastikan infrastruktur pengairan tetap menjadi tulang punggung
produksi pangan di Bumi Blambangan,” tutupnya. (*)
