1.jpg)
BANYUWANGI - Kemacetan panjang yang kerap terjadi di jalur menuju Pelabuhan Ketapang kembali menuai perhatian serius dari DPRD Banyuwangi.
Menurut Made, antrean kendaraan yang mengular hingga belasan kilometer tidak hanya menghambat mobilitas masyarakat, tetapi juga berdampak langsung pada distribusi pangan dan barang kebutuhan pokok.
“Kemacetan ini bisa bertransformasi menjadi ancaman nyata bagi ketahanan pangan. Rakyat mengalami kerugian besar, baik materiil maupun immateriil,” ujarnya.
Ia menegaskan, akar persoalan bukan pada jumlah kapal, melainkan keterbatasan dermaga yang tersedia. “Mau ditambah kapal sebanyak apapun, kalau dermaganya tidak mencukupi, tetap akan terjadi bottleneck. Ini sudah menjadi ritual tahunan yang menyiksa rakyat, khususnya Banyuwangi,” tegasnya.
Made juga mengingatkan bahwa banyaknya kapal yang menunggu giliran sandar berpotensi menimbulkan kecelakaan laut. Pemerintah pusat, menurutnya, harus segera hadir dengan solusi konkret agar tragedi di Selat Bali tidak terulang.
“Kalau tidak ada persiapan infrastruktur, jalur tol laut justru bisa memperparah kondisi,” katanya.
DPRD Banyuwangi mendesak pemerintah pusat untuk segera merealisasikan pembangunan dermaga baru di Pelabuhan Ketapang. Langkah ini dinilai penting untuk mengimbangi lonjakan volume kendaraan, terutama saat musim liburan dan arus mudik.
“Ketapang–Gilimanuk adalah urat nadi ekonomi. Jika tersumbat, ekonomi rakyat mati. Pemerintah jangan hanya datang meninjau, lalu pulang tanpa hasil,” tandas Made.
Selain itu, ia menekankan perlunya koordinasi lintas sektor antara pemerintah pusat, daerah, dan operator penyeberangan. Dengan sinergi yang baik, diharapkan distribusi logistik dapat berjalan lancar, sehingga tidak menimbulkan gejolak di sektor ekonomi maupun sosial.
Kemacetan di jalur Ketapang–Gilimanuk selama ini memang menjadi masalah klasik yang belum terselesaikan. DPRD Banyuwangi berharap, desakan kali ini benar-benar ditindaklanjuti dengan langkah nyata, bukan sekadar wacana.
“Rakyat menunggu solusi, bukan janji,” pungkas Made. (*)
