Daerah

Korsda DPU Pengairan Jadi Penjaga Nadi Irigasi Banyuwangi

Korsda DPU Pengairan Jadi Penjaga Nadi Irigasi Banyuwangi

BANYUWANGI - Persoalan sampah yang menyumbat saluran irigasi masih menjadi tantangan dalam menjaga kelancaran distribusi air bagi sektor pertanian di Banyuwangi. Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pengairan Banyuwangi mengoptimalkan peran Koordinator Sumber Daya Air (Korsda) sebagai ujung tombak pemeliharaan jaringan irigasi di lapangan.

Selain memastikan aliran air tetap lancar, petugas Korsda juga bertugas membersihkan sampah yang menghambat saluran, melakukan pemantauan kondisi jaringan irigasi, hingga mengedukasi masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai.

Kepala Bidang Operasional dan Pemeliharaan DPU Pengairan Banyuwangi, Deddy Koerniawan, mengatakan optimalisasi peran Korsda menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah menjaga fungsi infrastruktur pengairan yang menopang ribuan hektare lahan pertanian.

"Kita terus berusaha menjaga dan merawat jaringan irigasi dengan mengoptimalkan peran Korsda," ujarnya.

Menurut Deddy, seluruh petugas Korsda di berbagai wilayah terus digerakkan untuk melakukan pemeliharaan rutin. Kegiatan tersebut meliputi pembersihan sampah di saluran primer maupun sekunder, pengecekan kondisi bangunan irigasi, hingga memastikan tidak ada hambatan yang mengganggu distribusi air ke lahan pertanian.

"Korsda memiliki petugas yang akan langsung membersihkan saluran air apabila ada yang terhambat oleh sampah," katanya.

Ia menjelaskan, sistem pemeliharaan tidak hanya mengandalkan patroli rutin. DPU Pengairan juga membuka laporan dari masyarakat apabila ditemukan saluran tersumbat atau aliran air terganggu.

Begitu menerima informasi, petugas di lapangan segera melakukan penanganan agar gangguan tidak berdampak pada pasokan air irigasi.

Respons cepat dinilai penting karena keterlambatan penanganan dapat menyebabkan distribusi air ke areal persawahan terganggu, terutama pada musim tanam ketika kebutuhan air meningkat.

Meski demikian, Deddy menilai upaya pemerintah belum akan optimal tanpa dukungan masyarakat. Hingga kini masih ditemukan kebiasaan membuang sampah rumah tangga ke sungai maupun saluran irigasi.

Akibatnya, sampah menumpuk di gorong-gorong dan saluran sekunder sehingga menghambat aliran air menuju sawah.

Petugas Korsda kerap harus mengangkat tumpukan sampah secara manual agar aliran kembali normal. Kondisi tersebut tidak hanya menambah beban pekerjaan pemeliharaan, tetapi juga berpotensi mempercepat kerusakan infrastruktur pengairan apabila penyumbatan dibiarkan berlangsung lama.

DPU Pengairan berharap meningkatnya kesadaran masyarakat menjadi kunci keberhasilan menjaga fungsi jaringan irigasi. Menurut Deddy, sungai bukan hanya saluran pembuangan, melainkan infrastruktur vital yang menopang produktivitas pertanian dan menjadi sumber kehidupan bagi ribuan petani di Banyuwangi.

"Dengan kolaborasi antara pemerintah, petugas lapangan, dan masyarakat, keberlanjutan sistem irigasi diharapkan tetap terjaga sekaligus mengurangi risiko banjir maupun gangguan distribusi air pada musim tanam," pungkasnya.