Daerah

Program Padat Karya DPU Pengairan Banyuwangi Tidak Hanya Sekadar Serap Tenaga Kerja

Program Padat Karya DPU Pengairan Banyuwangi Tidak Hanya Sekadar Serap Tenaga Kerja

BANYUWANGI – Program padat karya yang dijalankan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pengairan Banyuwangi melalui  Koordinator Sumber Daya Air (Korsda) Srono tidak hanya menjadi solusi sementara bagi penyerapan tenaga kerja.

Lebih dari itu, kegiatan normalisasi saluran irigasi menjadi upaya strategis menjaga keberlanjutan produksi pertanian di tengah tantangan sedimentasi dan penyumbatan jaringan pengairan.

Sebanyak 15 saluran irigasi dinormalisasi melalui program padat karya yang melibatkan 30 pekerja. Kegiatan tersebut difokuskan pada pembersihan sedimentasi, rumput liar, hingga sampah yang menghambat aliran air menuju lahan pertanian. 

“Program ini diharapkan mampu mengembalikan fungsi saluran sehingga distribusi air ke areal persawahan berlangsung optimal,” kata Koordinator Sumber Daya Air (Korsda) Srono, Joko Setiyono.

Berbeda dari proyek konstruksi yang mengandalkan alat berat, padat karya lebih mengedepankan tenaga manusia. Skema ini dinilai memberi manfaat ganda. 

Selain memperbaiki infrastruktur irigasi, masyarakat sekitar juga memperoleh tambahan pendapatan melalui keterlibatan langsung dalam pekerjaan pemeliharaan jaringan pengairan.

Normalisasi saluran menjadi pekerjaan yang tidak bisa ditunda, terutama menjelang musim tanam. Sedimentasi yang menumpuk berpotensi mengurangi kapasitas aliran air. 

“Kondisi seperti itu dapat mengganggu pola tanam petani apabila tidak segera ditangani,” jelasnya.

Terpisah Pelaksana Tugas (Plt) mengatakan program padat karya juga memperlihatkan pendekatan kolaboratif dalam pengelolaan sumber daya air. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi ikut bertanggung jawab menjaga kebersihan saluran.

“Kesadaran tersebut penting untuk menekan biaya pemeliharaan di masa mendatang,” terangnya.

Ke depan, lanjut Cahyanto keberhasilan program semacam ini tidak hanya diukur dari jumlah saluran yang dibersihkan ataupun tenaga kerja yang dilibatkan. 

“Indikator yang lebih penting adalah meningkatnya kelancaran distribusi air, berkurangnya keluhan petani, serta terjaganya produktivitas lahan pertanian sepanjang musim tanam,” pungkasnya. (*)