Daerah

Memasuki Musim Tanam, Petani Banyuwangi Teguhkan Kearifan Lokal Melalui Ritual 'Bubak Bumi'

Memasuki Musim Tanam, Petani Banyuwangi Teguhkan Kearifan Lokal Melalui Ritual

Banyuwangi - Ratusan petani di Kabupaten Banyuwangi kembali menunjukkan komitmen kuat terhadap pelestarian warisan budaya agraris melalui penyelenggaraan ritual adat "Bubak Bumi". Tradisi leluhur ini, yang secara harfiah berarti 'membuka bumi', menjadi penanda krusial menjelang dimulainya masa tanam, bertindak sebagai manifestasi syukur sekaligus doa kolektif demi kelancaran irigasi dan panen raya yang optimal.

Plt. Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan Banyuwangi, Riza Al Fahrobi, menegaskan bahwa ritual Bubak Bumi bukan sekadar seremonial. "Tradisi ini adalah representasi nyata dari kearifan lokal (local wisdom) yang dijaga turun-temurun. Esensinya adalah pengakuan dan rasa syukur kepada Tuhan atas karunia air dan tanah, sekaligus penegasan komitmen kolektif untuk menjaga keberlanjutan sumber daya alam," ujar Riza.

Lebih lanjut, Riza menyoroti dimensi sosial dari ritual ini. Dalam menghadapi tantangan pertanian modern, mulai dari fluktuasi iklim hingga dinamika tata kelola air, ia menekankan pentingnya sinergi antarpetani. "Bubak Bumi menjadi platform untuk memperkuat solidaritas dan gotong royong anggota HIPPA. Semangat kekompakan ini adalah fondasi utama dalam menjamin ketahanan pangan regional dan menjaga ekosistem pertanian di Bumi Blambangan," tambahnya.

Ritual yang berpusat di Dam K Stail ini juga menggarisbawahi vitalitas infrastruktur pengairan kolonial yang masih berfungsi prima. Hariyono Efendi, Korsda Tegaldlimo, menjelaskan bahwa Dam K Stail bukan hanya situs adat, melainkan juga kunci utama dalam sistem irigasi wilayah selatan Banyuwangi.

"Bendungan ini, yang diperkirakan dibangun sebelum tahun 1953, masih memainkan peran fungsionalnya dengan sangat optimal. Saat ini, Dam K Stail bertanggung jawab mengairi kurang lebih 6.224 hektare lahan sawah produktif yang tersebar di Kecamatan Purwoharjo dan Tegaldlimo," jelas Hariyono. Keandalan sistem irigasi ini, ditopang oleh kesadaran petani melalui tradisi Bubak Bumi, menjadi dualisme yang menjaga produktivitas pertanian.

Secara keseluruhan, Bubak Bumi di Banyuwangi merupakan sebuah sintesis nilai spiritual, sosial, dan ekologis. Ia merefleksikan harmoni abadi antara masyarakat agraris dan lingkungan alam, membuktikan bahwa tradisi leluhur dapat berintegrasi dan menjadi jangkar di tengah arus modernisasi pertanian. Ritual ini menegaskan bahwa menanam padi adalah juga menanam harapan dan doa. (*)