
BANYUWANGI - Di balik kokohnya bangunan tua peninggalan era kolonial, Bendung Karangdoro masih memegang peran vital dalam menjaga keberlangsungan sektor pertanian Banyuwangi.
Lebih dari sekadar warisan, bendung yang telah berusia lebih dari satu abad itu hingga kini menjadi penopang utama ketahanan pangan di wilayah selatan kabupaten.
Air yang bersumber dari lereng Gunung Raung dan Pegunungan Gumitir dialirkan melalui Bendung Karangdoro untuk mengairi ribuan hektare lahan pertanian.
Infrastruktur tersebut menjadi nadi kehidupan petani di sejumlah kecamatan yang menggantungkan produktivitas sawah pada pasokan air irigasi.
Pelaksana tugas (Plt) Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pengairan Banyuwangi, Cahyanto Hendri Wahyudi, menjelaskan Bendung Karangdoro saat ini melayani kebutuhan irigasi seluas sekitar 16.165 hektare sawah.
Pasokan air tersebut dikelola melalui wilayah kerja Koordinator Sumber Daya Air (Korsda) Pesanggaran, Bangorejo, dan Cluring yang menjadi kawasan utama penerima manfaat.
"Keberadaan bendung ini bukan hanya infrastruktur pengairan, tetapi menjadi bagian penting dari keberlangsungan kehidupan masyarakat Banyuwangi," ujarnya.
Menurut Cahyanto, fungsi Bendung Karangdoro tidak berhenti pada aspek teknis irigasi. Bangunan tersebut juga menyimpan nilai historis yang telah melekat dengan perjalanan masyarakat Banyuwangi sejak masa kolonial.
Karena itu, pelestarian bendung beserta sejarahnya dinilai penting agar generasi muda memahami bagaimana infrastruktur tersebut berkontribusi terhadap pembangunan daerah.
Jejak sejarah itu masih hidup melalui tradisi Bubak Bumi, ritual syukur yang rutin digelar masyarakat sejak 1963 sebagai penanda berakhirnya masa panen sekaligus menyambut musim tanam berikutnya.
Tradisi tersebut menjadi simbol kuat hubungan antara masyarakat, air, dan pertanian yang selama puluhan tahun dibangun di sekitar Bendung Karangdoro. (*)
