Daerah

DPU Pengairan Perluas KSO Irigasi, HIPPA Didorong Mandiri Kelola Jaringan Pengairan

DPU Pengairan Perluas KSO Irigasi, HIPPA Didorong Mandiri Kelola Jaringan Pengairan

BANYUWANGI – Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan Kabupaten Banyuwangi memperluas pelaksanaan Program Kerja Sama Operasi (KSO) pengelolaan irigasi sebagai upaya memperkuat peran Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) dalam mengelola dan memelihara jaringan pengairan secara mandiri.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas PU Pengairan Banyuwangi, Cahyanto Hendri Wahyudi, mengatakan program tersebut merupakan strategi pemberdayaan petani agar tidak hanya menjadi penerima manfaat irigasi, tetapi juga terlibat langsung dalam pengelolaan infrastruktur yang menopang aktivitas pertanian.

"Melalui KSO, kami membangun kemandirian HIPPA dalam mengelola infrastruktur irigasi. Petani tidak hanya sebagai pengguna, tetapi menjadi pelaku aktif yang bertanggung jawab terhadap keberlanjutan sistem irigasi," ujar Cahyanto.

Program KSO diterapkan di lima daerah irigasi, yakni Daerah Irigasi Jalen 2 di Desa Setail, Daerah Irigasi Tugung 3 di Kecamatan Sempu, Daerah Irigasi Paeloan di Desa Sumberbaru, Kecamatan Singojuruh, Daerah Irigasi Sempu di Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, serta Daerah Irigasi Sumber Kempit di Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore.

Sebelum pelaksanaan program, para pengurus HIPPA mengikuti bimbingan teknis yang mencakup pengelolaan teknis jaringan irigasi, administrasi, hingga penguatan kelembagaan. Pembekalan tersebut ditujukan agar kelompok petani memiliki kemampuan mengelola sistem irigasi secara profesional dan berkelanjutan.

Sebagai bagian dari tahapan program, peserta juga menyusun Profil Sosio Ekonomi Teknik dan Kelembagaan (PSETK). Dokumen tersebut menjadi dasar dalam mengidentifikasi kondisi riil daerah irigasi sehingga perencanaan operasi dan pemeliharaan dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran.

"PSETK menjadi alat diagnostik yang mampu memetakan kebutuhan masing-masing daerah irigasi sehingga intervensi yang dilakukan lebih efektif dan efisien," kata Cahyanto.

Menurutnya, implementasi KSO diharapkan mampu meningkatkan efektivitas distribusi air irigasi, meminimalkan potensi konflik antarpetani dalam pembagian air, serta mendorong peningkatan produktivitas sektor pertanian.

Program tersebut juga menjadi bagian dari strategi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam memperkuat ketahanan pangan melalui pemberdayaan kelembagaan petani. Ke depan, HIPPA yang telah mengikuti KSO diharapkan dapat menjadi contoh bagi kelompok petani di daerah irigasi lainnya.

Cahyanto menegaskan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari semakin baiknya kondisi jaringan irigasi, tetapi juga dari meningkatnya kapasitas organisasi HIPPA dalam mengelola, memelihara, dan menjaga keberlanjutan sistem pengairan secara mandiri. (*)